Takzirah Jumaat

Rahsia Surah Al - Fatihah



























Di dalam riwayat-riwayat dari Ahlul bait (sa) dinyatakan bahwa Al-Qur’an memiliki makna lahir dan makna batin. Surah Al-Fatihah adalah salah satu surah Al-Qur’an yang mengandungi rahsia yang dalam dan dikenali sebagai Ummul Kitab, induk Al-Qur’an yang  mencakupi seluruh kandungan Al-Qur’an. Maknanya terbahagi kepada dua, separuh untuk Allah dan separuh lagi untuk hamba-Nya.

Dalam Tafsirnya Al-Mizan Allamah Thabathaba’i mengutip dari hadis Qudsi yang bersumber dari Imam Ali bin Abi Thalib (sa), dari Rasulullah SAW. Hadis ini sangatlah penting untuk  kita semak dan kita renungkan.

Hadisnya :
Imam Ali (sa) berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Aku membahagi surah Al-Fatihah antara Aku dan hamba-Ku, separuh untuk-Ku dan separuh lagi untuk hamba-Ku.

Tentang Rahsia surah Al-Fatihah, Rasulullah SAW juga bersabda:

“Ketika Allah Azza wa Jalla hendak menurunkan surah Al-Fatihah, ayat Kursi dah surah Ali-Imran 18, 26-27, surah dan ayat itu tergantung di Arasy dan tidak ada hijab dengan Allah. Surah dan ayat itu berkata kepada-Nya: Ya Rabbi, Engkau akan menurunkan kami ke alam dosa dan kepada orang yang bermaksiat kepada-Mu, sementara kami bergantung dengan kesucian-Mu. Maka Allah swt berfirman: “ Tidak ada seorang pun hamba yang membaca kamu setiap dan sesudah sholat kecuali Aku kurniakan padanya lingkaran kesucian di tempat ia berada, dan Aku memandangnya dengan mata-Ku yang tersembunyi dengan tujuh puluh kali pandangan setiap hari. Jika tidak, Aku tunaikan baginya setiap hari tujuh puluh hajat yang disertai pengampunan. Jika tidak, Aku melindungi dan menolongnya dari semua musuhnya


Untuk hamba-Ku adalah sesuatu yang ia mohon. 

Ketika ia membaca: Bismillahir Rahmanir Rahim, Allah Azza wa Jalla menyatakan: “Hamba-Ku telah memulai dengan nama-Ku, maka berhaklah Aku untuk menyempurnakan semua urusannya dan memberikan keberkatan dari sisi-Ku untuk seluruh keadaannya.

Ketika hamba-Ku membaca: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, Allah Azza wa Jalla menyatakan: “Hamba-Ku telah memuji-Ku, mengakui bahwa semua nikmat yang dimilikinya berasal dari sisi-Ku, dan semua bala’ hanyalah Aku yang menyingkirkan sehingga ia merasakan itu sebagai kurnia. Maka, hendaknya kamu saksikan, Aku akan menjamunya dengan kenikmatan akhirat lebih dari kenikmatan dunia yang telah Ku berikan, dan menyingkirkan bala’ akhirat sebagaimana Aku telah menyingkirkan bala’ dunia.

Ketika hamba-Ku membaca: Ar-Ramanir Rahim, Allah  Azza wa Jalla  menyatakan: Hamba-Ku telah bersaksi bahwa Aku Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kamu  saksikan, Aku akan melimpahkan rahmat-Ku kepadanya dan mencurahkan kurnia-Ku kepadanya.

Ketika hamba-Ku membaca: Maliki yawmiddin, Allah Azza wa Jalla menyatakan: Kamu saksikan, kerana ia telah mengakui Aku sebagai Raja pada hari kiamat, maka Aku akan memberikan kemudahan baginya iaitu amalnya tidak akan dihisab, dan Aku akan mengampuni semua kesalahannya.

Ketika hamba-Ku membaca: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Allah Azza wa Jalla menyatakan: “Dia hanya memohon pertolongan kepada-Ku dan hanya bersandar kepada-Ku. Kamu saksikan, Aku akan menolongnya dalam segala urusannya, Aku akan melindungi-Nya dalam segala deritanya, dan Aku akan memegang tangannya saat ia memerlukan pertolongan.

Ketika hamba-Ku membaca: Ihdinash shirathal mustaqim ... (sampai akhir surah), Allah Azza wa Jalla menyatakan:  “Hamba-Ku telah memohon kepada-Ku, maka Aku pasti menunaikan permohonan hamba-Ku, memberikan apa yang diinginkan, dan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkan

Shirathal mustaqim adalah jalan yang lurus, jalan menuju Allah swt. Tidak jarang manusia tersesat dari jalan ini sehingga ia mendapat murka Allah swt. Tergelincir darinya sehingga ia jatuh ke dalam api neraka.

Sharâthal Mustaqîm itu ada dua: Shirathal mustaqim di dunia dan Shirathal mustaqim di akhirat. Agar kita selamat dalam melintasi Shirathal mustaqim di akhirat, tidak tergelincir kemudian jatuh ke dalam api neraka, maka kita harus berada di Shirâthal mustaqîm dunia, mengikuti sunnah Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa), mematuhi bimbingan mereka.

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:

Shirathal mustaqim adalah jalan menuju makrifatullah. Shirathal mustaqim ada dua macam: Jalan di dunia, dan jalan di akhirat. Shirathal mustaqim di dunia adalah imam yang wajib ditaati. Barangsiapa yang mengenalnya di dunia, dan mengikuti bimbingannya, ia akan selamat dalam melintasi shirathal mustaqim di akhirat, jambatan di atas neraka Jahannam. Dan barangsiapa yang belum mengenalnya di dunia, ia akan tergelincir kakinya di akhirat sehingga jatuh ke dalam api neraka Jahannam.


Amin...

1 ulasan:

nawal addina berkata...

subhanallah !

hebat !

Catat Ulasan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...